Sabtu, 28 Juni 2008

Opposite Status - Phase 03 : Thinking About Her

Hari sudah larut, kami memutuskan untuk segera pulang. Pak Oman, supirku mengantar empat sahabatku pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan aku diantar pulang oleh Rath dengan Camry hitamnya.

Aku terlalu kikuk bila berduaan dengan seorang cowok yang lebih tua. Aku memang payah dalam hal bersosialisasi hingga Ayah hampir memutuskan agar aku home schooling. Aku memang tipe orang yang pendiam. Aku tak berbicara sedikitpun. Sampai ia yang membuka pembicaraan.

“Kejadian hari ini jangan bicarakan pada siapapun ya.” Katanya.

“Kau tidak mau ayah kita mengetahuinya maksudmu?” tanyaku.

“Hampir seperti itulah. Lagipula aku hanya memenuhi permintaan ayahku saja.”

Aku terdiam sejenak, berpikir sedikit. Setelah semenit berpikir aku menjawab permintaan Rath, “Baiklah, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. By the way, tidak masalah nih kau meninggalkan pekerjaanmu begitu saja?”

“Tidak masalah, toh aku juga sedang ambil cuti sementara karena diminta ibuku.” Sahutnya dingin.

Seperti ada badai salju menghantam hatiku. Rasanya dia begitu dingin dan menyeramkan bagi diriku yang sensitif ini, seperti hantu yang kutakutkan. Selama aku menyesuaikan diri aku tak menyangka sudah sampai lagi di rumah.

Dia membukakan pintu mobil untukku, menuntunku keluar layaknya seorang tuan putri.

“Terima kasih sudah diantarkan.” Ucapku sambil tersenyum.

“Tidak masalah.” Sahutnya sembari kembali ke mobilnya. Ia menyalakan mesin mobil dan bersiap pergi.

“Sebenarnya.....”

“Hm?”

“Sebenarnya karena kau menemaniku, aku tak perlu sangat ketakutan. Rasanya nyaman. Hari ini sungguh menyenangkan karena kau, terima kasih.” Kataku dengan wajah memerah.

“Ya.”

Rath segera menancap gas, melaju dengan kecepatan yang tinggi. Hingga mobilnya tak terlihat lagi. Aku masuk ke dalam rumah dan berlari kearah kamarku. Aku merasa gelisah dan emosional.

“Apa yang kurisaukan?” tanyaku pada diri sendiri.

Setelah membersihkan diri aku duduk di depan meja belajarku. Menulis sebuah surat untuk seseorang yang tak kuketahui.

-{-

Rath.....

Setelah Rath mengantarkan Levi sampai rumah ia memutar arah ke rumahnya. Ketika tiba di rumahnya. Pak Jun seperti sudah menantikan kedatangannya. Rath tahu maksud ayahnya. Dengan santainya dia masuk ke kamarnya. Sebelumnya Pak Jun sempat bertanya padanya.

“Bagaimana harimu hari ini?” tanya Pak Jun.

“Biasa saja.” Jawabnya dingin seperti biasa.

Ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuk dengan cover bed berwarna krem. Ia masih memikirkan kejadian siang tadi. Ketika nonton di bioskop dan makan di food court. Ia banyak berpikir tentang Levi, gadis yang ia baru kenal.

Hmpf,ternyata dia takut degan hantu dan semacamnya ya? Dia takut dengan film horror, tapi sangat suka dengna film-film lucu. Dia juga sangat suka dengan lemon tea....Lho? Kenapa aku jadi mikirin Levi melulu sih... Diakan cuma anak-anak. Tapi rasanya ketika melihat senyumnya yang terakhir, kenapa aku jadi merasa deg-degan ya? Dia seperti bukan anak-anak di hadapanku.... Sudahlah, akan kupastikan lagi besok....

Rath tertidur setelah memikirkan Levi. Tidur dengan lelapnya karena kecapaian. Semoga bermimpi indah.

Tidak ada komentar: