Semester baru dibuka. Aku menghadiri upacara membosankan ini dengan tidak niat. Teman baikku, Gracia menepuk pundakku agar aku tetap semangat.
“Semangat dong, Lv! Kamu ‘gak mau kalah sama Alvin atau Riana kan?” kata Gracia.
Aku memandang Gracia dengan mata kuyu. “Aku bukannya ‘gak semangat, tapi aku capek habis begadang buat bikin klipping liburan semester tiga!”
“And?”
“Dan klipping itu belum selesai di bagian tahun baru kemarin.”
“Um, aku tahu kamu kurang tidur, tapi sabar aja bentar lagi Pak Musi juga selesai pidatonya. Pulangnya kita ke Mall dulu yuk!” ajak Gracia.
“Uwaah!! Graci emang paling oke!” seruku mengacungkan kedua jempol tanganku.
“Kita nonton di Elos Plaza aja. Sekalian katanya Ricky mau nonton juga sama guys yang lain.”
“Tapi kamu ada-ada aja deh, aku kan pengen tidur. Kalau ke bioskop berarti tetap aja bikin mengantuk.”
“Yah, nontonnya film horror dong! Kalau yang lucu sudah pasti kamu bakal ketiduran....”
Aku terbengong-bengong mendengar Gracia mengajakku menonton film horror. Padahal aku inikan takut sama film-film hantu tanah airku ini! Tapi bisa-bisa nanti ketahuan kalau aku takut dan Gracia akan menjahiliku dengan topeng hantunya itu. Mama....mia...., pikirku.
Aku menampar kedua pipiku. Kanan—kiri kutampar dua-duanya. Memang sakit tapi bisa membuat mataku terbuka untuk saat ini. Akhirnya Pak Musi selesai juga dengan ceramahnya itu. Upacara pun selesai dan anak-anak bubar untuk pulang.
Aku menunggu Gracia yang belum selesai beres-beres di depan ruang kelas. Sesekali aku menguap karena kantuk. Lalu kami menemui Ricky, pacarnya Gracia. Ternyata Ricky mengajak Rif dan Shelly. Ternyata hanya aku sendiri yang tidak ada pasangan.... Yah, biarlah toh kami hanya mau nonton di bioskop saja. Kami akan pergi ke Elos Plaza dengan mobil Alpard yang menjemputku seperti biasa.
Ketika berjalan melewati gerbang sekolah aku melihat seorang cowok berdiri disana seperti sedang mencari-cari seseorang. Tapi rasanya aku kenal dengan orang itu. Tapi siapa?
“Hei, Lv ngapain kamu lihat cowok yang di depan itu? Kayaknya mencurigakan deh....” kata Ricky curiga.
“...... dia....diakan Rath?” gumamku dengan tatapan mata tertuju pada cowok di depan.
“Haaah? Memang dia kenalan kamu, Vi?” tanya Gracia.
“Tidak terlalu kenal sih, hanya saat tahun baru kemarin aku berkenalan dengannya....”
Lalu cowok yang ternyata adalah Rath itu melihatku dan berjalan kearahku. Glek! Aku merasa dia marah padaku, tapi aku salah apa ya. Ketika dia sudah tepat berada semeter di depanku aku bertanya padanya,
“Selamat pagi, kenapa kamu ada disini?”
Rath menjawab, “Aku diminta ayahku dan ayahmu untuk menjemputmu di sekolah setiap hari.”
“Lho? Untuk apa? Aku kan sudah ada supir yang mengantar jemput. Tu, tunggu dulu Ayah tidak bilang padaku kalau kau akan datang untuk menjemputku...”
“Entahlah, jadi bagaimana? Apakah kamu mau kuantar pulang?” tanyanya malu-malu mengalihkan pandangannya dariku.
Aku tersenyum geli melihatnya malu-malu seperti itu. Aku terpikirkan sesuatu dan menjawab pertanyaannya, “Boleh saja, tapi kau harus ikut aku dan teman-temanku main di Elos Plaza. Karena ada Pak Oman yang jadi supirku, mubazir kan kalau kuminta pulang dan lagi aku tidak mau membatalkan rencana ini dengan teman-temanku.”
“Oke, aku memang sedang minta cuti selama sebulan sih...”
“Ya sudah. Oke guys, kita senang-senang setelah stress diceramahin Pak Musi!” seruku begitu semangat.
“Udah ‘gak ngantuk lagi Lv?” tanya Gracia.
“Mataku jadi melek setelah kena sinar matahari nih.” Jawabku.
Kami lalu pergi ke Elos Plaza. Hanya memakan waktu 30 menit dari sekolah. Untunglah kami tidak telat, filmnya masih agak lama mainnya. Setelah membeli tiket, kami membeli camilan untuk nonton nanti. Rasanya aku masih cukup kenyang setelah makan pagi tadi sehingga aku hanya membeli popcorn dan minuman lemon tea saja.
Ketika filmnya akan dimulai kami sudah duduk di bangku bioskop. Tapi anehnya Gracia yang mengatur tempat duduk malah membuat tempat dudukku dan Rath terpisah jauh dari teman-teman yang lain. Selama trailer di bioskop aku berkali-kali menggumam kata-kata ‘horror’ karena aku takut dengan jenis film ini. Apa yang harus kulakukan?
Film dimulai dengan prolog yang agak menakutkan. Menampilkan sebuah rumah hantu di Jakarta. Entah dimana tapi aku merasa seram dengan bangunan tua itu. Tiba-tiba terdengar suara dari speaker bioskop. Suara yang kecil seperti berbisik-bisik dan makin lama kian membesar. Dan saat prolog tersebut selesai muncul hantunya. Badanku terdorong karena terkejut dan takut. Untunglah cerita bagian hantu muncul itu sudah berakhir dan ke masa-masa tenang. Selama masa-masa tenang itu aku sampai menghabiskan popcorn yang kubeli. Dan dimulailah bagian-bagian klimaks yang banyak adegan menyeramkan. Aku gemetaran, berkeringat dingin dan sampai menitikkan air mata. Takut, aku tak tahan lagi menonton film seperti ini. Aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku. Takut kalau hantu itu akan muncul didepan, belakang atau disebelahku.
Rath menggenggam tanganku yang bergemetar dan menghapus air mataku dengan tangannya yang besar. Dia tahu kalau aku ketakutan. Tapi karena menangis aku mulai merasakan kantukku lagi dan ketiduran selama film berlangsung. Rath menahan kepalaku di pundaknya agar tidak jatuh ke orang di sebelah. Mungkin dia orang yang baik.
Akhirnya film itu selesai. Aku dibangunkan oleh Rath dan berjalan keluar dari studio bioskop ini sambil menyedot lemon tea yang tersisa. Aku memintanya menunggu sebentar selama aku ke toilet. Rasanya mataku lebih segar daripada tadi. Aku terbayang dengan film horror tadi. Begitu keluar dari toilet, Rath sudah bersama Gracia cs yang menungguku, Shelly, dan Rif yang ternyata juga ke toilet. Sambil menunggu Shelly dan Rif aku melihat jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul 12.30. Sudah waktunya makan siang lagi.
“Lv, mau makan dimana nih?” tanya Ricky.
“Terserah, aku sih tidak masalah dimana aja. Rath, kau makan sesuatu yang tertentu misalnya? Kamu tidak vegetarian seperti ayahmu kan?” tanyaku.
“Tidak, aku tidak vegetarian. Aku terserah kalian, dimana saja tidak apa-apa kok.” Jawab Rath.
“Kalau begitu kita makan di food court saja. Jadi banyak pilihannya. Lagipula Ricky, Rif dan Lv ‘kan banyak makannnya.”
“Graci, jangan bilang-bilang dong! Tapi yang lebih parah ‘kan Ricky dan Rif. Apalagi kalau ada Eru.” Kataku sebal.
“Eru siapa?” tanya Rath.
Shelly dan Rif akhirnya keluar juga dari toilet. Gracia tersenyum puas. Ia meminum minumannya yang juga belum habis itu. Aku sama sekali lupa memperkenalkan teman-temanku pada Rath. Bodohnya aku.
“Namamu Rath kan? Perkenalkan aku Gracia, Gracia Hilton. Cowok disebelahku ini pacarku, Ricky dan dua orang yang baru keluar dari toilet itu Shelly dan Rif.” Ujar Gracia. “Lv ‘kan pelupa, mana mungkin dia ingat apa yang harus dia lakukan.”
“Graci! Kau membocorkan segala kecerobohanku!” seruku.
Gracia hanya tersenyum nyengir, ia benar-benar membuatku salah tingkah didepan Rath. Tapi sepertinya Rath sedikit bingung kenapa aku yang bernama Levi ini malah dipanggil Elvi alias Lv. Ketika Rath menanyakan sebabnya aku hanya menjawab dengan singkat.
“Hanya untuk seru-seruan saja.”
“Seru-seruan?”
“Ya, namanya juga anak remaja pasti masing-masing ingin mempunyai sesuatu yang berbeda ‘kan?” kataku. “Jadi inilah hasilnya namaku jadi dipanggil Lv, Gracia—Graci, Rif itu nama panjangnya Rifal lho!”
“Aku benar-benar tidak mengerti mungkin karena kelamaan kuliah di Amerika.” Gumam Rath.
“Amerika? Jadi kau lulusan sana ya? Pantas terlihat beda 1% dari sepupuku.” Kata Ricky.
“Argh, kelamaan menunggu aku jadi lapar. Yuk, kita langsung ke food court.” Ajak Gracia yang sudah setengah mati kelaparan.
Masing-masing berpencar mencari makanan favoritnya masing-masing. Aku tidak mempedulikan soal makanan asalkan tidak pedas-pedas amat. Aku lebih memilih ke KFC daripada yang lain. Aku bertanya-tanya dengan beberapa hal pada diriku sendiri. Termasuk kehadiran Rath hari ini.
Makanan yang kupesan sudah lengkap semuanya. Sepertinya hanya aku sendiri yang sudah selesai. Lebih baik aku cari tempat agar tidak pegal memegang nampan yang berat. Ada meja untuk enam orang, untunglah. Aku duduk menunggu yang lainnya. Tempat yang kudapat mudah dilihat dan ditemukan. Gracia, Ricky, lalu Shelly. Ketiganya masing-masing membawa nampan dengan begitu banyak macam makanan yang mereka beli. Aku rasa lebih baik aku tidak banyak bicara dahulu, karena pasti yang akan dibahas adalah film yang tadi.
“Kok dua orang itu lama sekali ya?” Kata Shelly.
“Kalau Rif sih pasti dia bingung mau pilih yang mana.” Ujar Ricky.
“Kalau Rath?” tanya Shelly. “Lv?”
“Aku sama sekali ‘gak tahu apa-apa tentang dia. Sifatnya saja menyebalkan. Dibalik topeng tersenyumnya aku ‘gak suka. Karena dia anak relasi ayah jadi aku mau tidak mau harus memakai bahasa halus walau berada di depan kalian.”
“Wekz?! Kukira dia seperti semacam tunanganmu atau apalah. Karena dia mengatakan mau menjemputmu.” Ujar Ricky.
“Sudahlah, aku tidak mau stress hanya karena memikirkan masalah tidak penting.” Kataku ketus.
Lalu akhirnya Rif dan Rath datang juga. Keempat yang lainnya sudah makan duluan. Tapi ditengah keasyikkan mengisi perut itu HP seseorang berdering. Ternyata HP Rif.
o Horee!! Akhirnya aku dapet game ‘Vestraya Hope’ yang kalian bicarakan itu!!! Sumpah susah bgt dptnya!! Eru
“Oh, si Eru baru dapet game Vestraya Hope, biasa maniak game pasti kayak gitu.” Kata Rif.
“Game? Vestraya Hope ya? Aku sudah selesai dari minggu kemarin.” Kataku sudah selesai makan sembari menyedot minuman kesukaanku.
“Hah?! Kau sudah selesai lagi, Vi?!” seru Shelly.
“Iya, mudah-mudah aja sih asal kita tahu teka-teki di cerita gamenya.”
Gracia memandangiku dan asal berkata, “Lv, kau minum lemon tea lagi? Ampun deh, mentang-mentang minuman kesukaanmu.”
“Biarin aja. Yang penting aku suka ini. Habis enak sih.” Kataku tak peduli.
Kalimat demi kalimat bermunculan hingga sampai berganti topik mengenai film horror itu. Aku tidak mau mengingat film itu lagi. Ketika ditanyai kesan-kesannya aku malah menjawab,
“Tidak ada kesan yang baik untukku, aku inikan benci film-film horror seperti itu.” Kuakui jujur.
Aku sudah menduga reaksi mereka pasti akan sangat terkejut. Memang kenyataan kalau aku takut film horror berbeda jauh dengan sifatku ini. Tapi tidak masalah bagaimanapun sifatku atau ketakutanku ini. Selama aku menjad diriku sendiri semua tidak masalah.
“Semangat dong, Lv! Kamu ‘gak mau kalah sama Alvin atau Riana kan?” kata Gracia.
Aku memandang Gracia dengan mata kuyu. “Aku bukannya ‘gak semangat, tapi aku capek habis begadang buat bikin klipping liburan semester tiga!”
“And?”
“Dan klipping itu belum selesai di bagian tahun baru kemarin.”
“Um, aku tahu kamu kurang tidur, tapi sabar aja bentar lagi Pak Musi juga selesai pidatonya. Pulangnya kita ke Mall dulu yuk!” ajak Gracia.
“Uwaah!! Graci emang paling oke!” seruku mengacungkan kedua jempol tanganku.
“Kita nonton di Elos Plaza aja. Sekalian katanya Ricky mau nonton juga sama guys yang lain.”
“Tapi kamu ada-ada aja deh, aku kan pengen tidur. Kalau ke bioskop berarti tetap aja bikin mengantuk.”
“Yah, nontonnya film horror dong! Kalau yang lucu sudah pasti kamu bakal ketiduran....”
Aku terbengong-bengong mendengar Gracia mengajakku menonton film horror. Padahal aku inikan takut sama film-film hantu tanah airku ini! Tapi bisa-bisa nanti ketahuan kalau aku takut dan Gracia akan menjahiliku dengan topeng hantunya itu. Mama....mia...., pikirku.
Aku menampar kedua pipiku. Kanan—kiri kutampar dua-duanya. Memang sakit tapi bisa membuat mataku terbuka untuk saat ini. Akhirnya Pak Musi selesai juga dengan ceramahnya itu. Upacara pun selesai dan anak-anak bubar untuk pulang.
Aku menunggu Gracia yang belum selesai beres-beres di depan ruang kelas. Sesekali aku menguap karena kantuk. Lalu kami menemui Ricky, pacarnya Gracia. Ternyata Ricky mengajak Rif dan Shelly. Ternyata hanya aku sendiri yang tidak ada pasangan.... Yah, biarlah toh kami hanya mau nonton di bioskop saja. Kami akan pergi ke Elos Plaza dengan mobil Alpard yang menjemputku seperti biasa.
Ketika berjalan melewati gerbang sekolah aku melihat seorang cowok berdiri disana seperti sedang mencari-cari seseorang. Tapi rasanya aku kenal dengan orang itu. Tapi siapa?
“Hei, Lv ngapain kamu lihat cowok yang di depan itu? Kayaknya mencurigakan deh....” kata Ricky curiga.
“...... dia....diakan Rath?” gumamku dengan tatapan mata tertuju pada cowok di depan.
“Haaah? Memang dia kenalan kamu, Vi?” tanya Gracia.
“Tidak terlalu kenal sih, hanya saat tahun baru kemarin aku berkenalan dengannya....”
Lalu cowok yang ternyata adalah Rath itu melihatku dan berjalan kearahku. Glek! Aku merasa dia marah padaku, tapi aku salah apa ya. Ketika dia sudah tepat berada semeter di depanku aku bertanya padanya,
“Selamat pagi, kenapa kamu ada disini?”
Rath menjawab, “Aku diminta ayahku dan ayahmu untuk menjemputmu di sekolah setiap hari.”
“Lho? Untuk apa? Aku kan sudah ada supir yang mengantar jemput. Tu, tunggu dulu Ayah tidak bilang padaku kalau kau akan datang untuk menjemputku...”
“Entahlah, jadi bagaimana? Apakah kamu mau kuantar pulang?” tanyanya malu-malu mengalihkan pandangannya dariku.
Aku tersenyum geli melihatnya malu-malu seperti itu. Aku terpikirkan sesuatu dan menjawab pertanyaannya, “Boleh saja, tapi kau harus ikut aku dan teman-temanku main di Elos Plaza. Karena ada Pak Oman yang jadi supirku, mubazir kan kalau kuminta pulang dan lagi aku tidak mau membatalkan rencana ini dengan teman-temanku.”
“Oke, aku memang sedang minta cuti selama sebulan sih...”
“Ya sudah. Oke guys, kita senang-senang setelah stress diceramahin Pak Musi!” seruku begitu semangat.
“Udah ‘gak ngantuk lagi Lv?” tanya Gracia.
“Mataku jadi melek setelah kena sinar matahari nih.” Jawabku.
Kami lalu pergi ke Elos Plaza. Hanya memakan waktu 30 menit dari sekolah. Untunglah kami tidak telat, filmnya masih agak lama mainnya. Setelah membeli tiket, kami membeli camilan untuk nonton nanti. Rasanya aku masih cukup kenyang setelah makan pagi tadi sehingga aku hanya membeli popcorn dan minuman lemon tea saja.
Ketika filmnya akan dimulai kami sudah duduk di bangku bioskop. Tapi anehnya Gracia yang mengatur tempat duduk malah membuat tempat dudukku dan Rath terpisah jauh dari teman-teman yang lain. Selama trailer di bioskop aku berkali-kali menggumam kata-kata ‘horror’ karena aku takut dengan jenis film ini. Apa yang harus kulakukan?
Film dimulai dengan prolog yang agak menakutkan. Menampilkan sebuah rumah hantu di Jakarta. Entah dimana tapi aku merasa seram dengan bangunan tua itu. Tiba-tiba terdengar suara dari speaker bioskop. Suara yang kecil seperti berbisik-bisik dan makin lama kian membesar. Dan saat prolog tersebut selesai muncul hantunya. Badanku terdorong karena terkejut dan takut. Untunglah cerita bagian hantu muncul itu sudah berakhir dan ke masa-masa tenang. Selama masa-masa tenang itu aku sampai menghabiskan popcorn yang kubeli. Dan dimulailah bagian-bagian klimaks yang banyak adegan menyeramkan. Aku gemetaran, berkeringat dingin dan sampai menitikkan air mata. Takut, aku tak tahan lagi menonton film seperti ini. Aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku. Takut kalau hantu itu akan muncul didepan, belakang atau disebelahku.
Rath menggenggam tanganku yang bergemetar dan menghapus air mataku dengan tangannya yang besar. Dia tahu kalau aku ketakutan. Tapi karena menangis aku mulai merasakan kantukku lagi dan ketiduran selama film berlangsung. Rath menahan kepalaku di pundaknya agar tidak jatuh ke orang di sebelah. Mungkin dia orang yang baik.
Akhirnya film itu selesai. Aku dibangunkan oleh Rath dan berjalan keluar dari studio bioskop ini sambil menyedot lemon tea yang tersisa. Aku memintanya menunggu sebentar selama aku ke toilet. Rasanya mataku lebih segar daripada tadi. Aku terbayang dengan film horror tadi. Begitu keluar dari toilet, Rath sudah bersama Gracia cs yang menungguku, Shelly, dan Rif yang ternyata juga ke toilet. Sambil menunggu Shelly dan Rif aku melihat jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul 12.30. Sudah waktunya makan siang lagi.
“Lv, mau makan dimana nih?” tanya Ricky.
“Terserah, aku sih tidak masalah dimana aja. Rath, kau makan sesuatu yang tertentu misalnya? Kamu tidak vegetarian seperti ayahmu kan?” tanyaku.
“Tidak, aku tidak vegetarian. Aku terserah kalian, dimana saja tidak apa-apa kok.” Jawab Rath.
“Kalau begitu kita makan di food court saja. Jadi banyak pilihannya. Lagipula Ricky, Rif dan Lv ‘kan banyak makannnya.”
“Graci, jangan bilang-bilang dong! Tapi yang lebih parah ‘kan Ricky dan Rif. Apalagi kalau ada Eru.” Kataku sebal.
“Eru siapa?” tanya Rath.
Shelly dan Rif akhirnya keluar juga dari toilet. Gracia tersenyum puas. Ia meminum minumannya yang juga belum habis itu. Aku sama sekali lupa memperkenalkan teman-temanku pada Rath. Bodohnya aku.
“Namamu Rath kan? Perkenalkan aku Gracia, Gracia Hilton. Cowok disebelahku ini pacarku, Ricky dan dua orang yang baru keluar dari toilet itu Shelly dan Rif.” Ujar Gracia. “Lv ‘kan pelupa, mana mungkin dia ingat apa yang harus dia lakukan.”
“Graci! Kau membocorkan segala kecerobohanku!” seruku.
Gracia hanya tersenyum nyengir, ia benar-benar membuatku salah tingkah didepan Rath. Tapi sepertinya Rath sedikit bingung kenapa aku yang bernama Levi ini malah dipanggil Elvi alias Lv. Ketika Rath menanyakan sebabnya aku hanya menjawab dengan singkat.
“Hanya untuk seru-seruan saja.”
“Seru-seruan?”
“Ya, namanya juga anak remaja pasti masing-masing ingin mempunyai sesuatu yang berbeda ‘kan?” kataku. “Jadi inilah hasilnya namaku jadi dipanggil Lv, Gracia—Graci, Rif itu nama panjangnya Rifal lho!”
“Aku benar-benar tidak mengerti mungkin karena kelamaan kuliah di Amerika.” Gumam Rath.
“Amerika? Jadi kau lulusan sana ya? Pantas terlihat beda 1% dari sepupuku.” Kata Ricky.
“Argh, kelamaan menunggu aku jadi lapar. Yuk, kita langsung ke food court.” Ajak Gracia yang sudah setengah mati kelaparan.
Masing-masing berpencar mencari makanan favoritnya masing-masing. Aku tidak mempedulikan soal makanan asalkan tidak pedas-pedas amat. Aku lebih memilih ke KFC daripada yang lain. Aku bertanya-tanya dengan beberapa hal pada diriku sendiri. Termasuk kehadiran Rath hari ini.
Makanan yang kupesan sudah lengkap semuanya. Sepertinya hanya aku sendiri yang sudah selesai. Lebih baik aku cari tempat agar tidak pegal memegang nampan yang berat. Ada meja untuk enam orang, untunglah. Aku duduk menunggu yang lainnya. Tempat yang kudapat mudah dilihat dan ditemukan. Gracia, Ricky, lalu Shelly. Ketiganya masing-masing membawa nampan dengan begitu banyak macam makanan yang mereka beli. Aku rasa lebih baik aku tidak banyak bicara dahulu, karena pasti yang akan dibahas adalah film yang tadi.
“Kok dua orang itu lama sekali ya?” Kata Shelly.
“Kalau Rif sih pasti dia bingung mau pilih yang mana.” Ujar Ricky.
“Kalau Rath?” tanya Shelly. “Lv?”
“Aku sama sekali ‘gak tahu apa-apa tentang dia. Sifatnya saja menyebalkan. Dibalik topeng tersenyumnya aku ‘gak suka. Karena dia anak relasi ayah jadi aku mau tidak mau harus memakai bahasa halus walau berada di depan kalian.”
“Wekz?! Kukira dia seperti semacam tunanganmu atau apalah. Karena dia mengatakan mau menjemputmu.” Ujar Ricky.
“Sudahlah, aku tidak mau stress hanya karena memikirkan masalah tidak penting.” Kataku ketus.
Lalu akhirnya Rif dan Rath datang juga. Keempat yang lainnya sudah makan duluan. Tapi ditengah keasyikkan mengisi perut itu HP seseorang berdering. Ternyata HP Rif.
o Horee!! Akhirnya aku dapet game ‘Vestraya Hope’ yang kalian bicarakan itu!!! Sumpah susah bgt dptnya!! Eru
“Oh, si Eru baru dapet game Vestraya Hope, biasa maniak game pasti kayak gitu.” Kata Rif.
“Game? Vestraya Hope ya? Aku sudah selesai dari minggu kemarin.” Kataku sudah selesai makan sembari menyedot minuman kesukaanku.
“Hah?! Kau sudah selesai lagi, Vi?!” seru Shelly.
“Iya, mudah-mudah aja sih asal kita tahu teka-teki di cerita gamenya.”
Gracia memandangiku dan asal berkata, “Lv, kau minum lemon tea lagi? Ampun deh, mentang-mentang minuman kesukaanmu.”
“Biarin aja. Yang penting aku suka ini. Habis enak sih.” Kataku tak peduli.
Kalimat demi kalimat bermunculan hingga sampai berganti topik mengenai film horror itu. Aku tidak mau mengingat film itu lagi. Ketika ditanyai kesan-kesannya aku malah menjawab,
“Tidak ada kesan yang baik untukku, aku inikan benci film-film horror seperti itu.” Kuakui jujur.
Aku sudah menduga reaksi mereka pasti akan sangat terkejut. Memang kenyataan kalau aku takut film horror berbeda jauh dengan sifatku ini. Tapi tidak masalah bagaimanapun sifatku atau ketakutanku ini. Selama aku menjad diriku sendiri semua tidak masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar