Jumat, 27 Juni 2008

Opposite Status - Phase 01 : That Guy

Sesuatu yang kita angan-angankan kadang terwujud. Begitu juga dengan diriku. Aku bisa berpacaran dengan cowok yang kusukai saja itu seperti mimpi. Kalau mimpiku menjadi kenyataan inilah salah satunya dari angan-angan yang sangat dibilang hampir tidak mungkin terwujud. Semua hal bisa terjadi asalkan kita mau berusaha.

Alkisah bermula dari diriku yang jatuh cinta pada seorang cowok yang dingin dan penuh senyum palsu. Namaku Eve Levi Ashta Sharon, namaku panjang ya? Panggil saja Levi atau teman-temanku menyingkatnya menjadi Lv. Di usiaku yang kesepuluh aku jatuh cinta pada putra teman bisnis ayahku hanya dari sebuah foto. Ya Tuhan, tampannya dia. Tapi pemikiran itu berubah drastis ketika saat usiaku empat belas tahun.
Ketika untuk pertama kalinya aku bertatap muka dengannya, aku baru tahu bagaimana orang yang aslinya. Dia sangat pendiam, jutek, dan menyebalkan. Dia memberikan senyum palsu kepada semua orang termasuk kepada ayahku. Yah dia lebih tua dariku, sekitar 8-10 tahunan. Dia sudah dewasa sedangkan aku masih remaja. Senyum palsunya itu adalah senyum bisnis, karena ia sudah bekerja di perusahaan ayahnya. Aku sangat anti dengan senyum palsu seperti itu, sehingga aku dapat membedakannya.

Kami pertama kali bertemu saat teman bisnis ayahku mengadakan pesta tahun baru. Aku hanya bisa menggelengkan kepala apabila diminta ikut. Tapi kali ini aku mau ikut karena tidak ada pekerjaan sama sekali. Sebenarnya aku agak benci berdandan, bersolek menjadi perempuan yang narsis dan pesolek. Tidak, aku bukan orang yang seperti itu. Memakai high heels membuatku tersiksa, lalu gaun berwarna biru muda yang hanya sepanjang lutut membuatku terlihat seksi. Bagian punggung yang terbuka membuat kulitku yang berwarna coklat kuning ini terlihat. Entah apa reaksi orang-orang.

Berjalan diatas karpet merah layaknya seorang selebritis. Menebar senyum manis untuk difoto. Mungkin tampangku saat ini sangat mengerikan karena tersiksa dengan high heels ini. Ketika ayahku berbincang dengan para relasi bisnisnya aku lebih baik menyingkir agar tidak mengganggu.
Aku berkeliling di rumah besar Pak Jun, teman ayahku dan juga ayah dari cowok itu. Aku lebih senang menyendiri di tempat yang sepi. Rasanya nyaman udara di taman. Daripada terus berdiri lebih baik aku duduk di kursi taman ini. Kalau kakak dan adikku sih memang betah dengan keramaian seperti ini. Entah keturunan dari siapa sifatku ini. Disinilah aku bertemu dengan cowok itu.
Dia keluar dari bangunan. Ia menyeka kacamatanya yang penuh dengan embun. Pertamanya aku sungguh senang sampai akhirnya dia berdumel.
“Capeknya senyum-senyum di depan teman-teman ayah. Kenapa aku harus melakukannya. Capek meladeni om-om bermuka tebal di dalam.” Dumelnya.
Mendengar dumelannya itu aku langsung bersembunyi. Kok tidak seperti yang ada di foto dan yang diceritakan oleh ayah ya?!, kataku dalam hati. Aku menarik nafas sedalam-dalamnya dan memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyianku. Ketika mencoba berdiri aku tersandung karena sepatuku yang seperti ini. Dia menyadari kehadiranku dan menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya membantuku berdiri.
Dengan lembutnya ia bertanya padaku, “Kau tidak apa-apa?”
“Ah yah, aku tidak apa-apa.” Jawabku. “Terima kasih.” Ucapku sambil tersenyum.
Dia membalas senyumku. Aku takut kalau aku jatuh cinta padanya. Hingga saat kami berdua dipanggil oleh ayah kami masing-masing.
“Perkenalkan ini putri sulung saya, namanya Levi.” Kata Ayah mempekenalkan diriku pada Pak Jun dan putranya.
“Oh, gadis yang cantik. Ah ya, ini putra sulungku yang akan meneruskan perusahaanku, namanya Rath.”
“Salam kenal.” Salamku dan Rath bersamaan.
“Oh ya, Pak Happy, putri anda umurnya berapa ya? Kelas berapa?” tanya Pak Jun.
“Aduh, Levi umurmu sekarang berapa? Enam belas tahun ya?” ujar Ayah masih bertanya-tanya.
“Umurku empat belas tahun, aku kelas dua SMP.” Jawabku.
“Empat belas tahun tapi sudah sebesar ini? Wah, hebatnya! Bagaimana kalau kita jodohkan kedua anak kita?” tawar Pak Jun.
“Wah, boleh juga. Tapi entah karena ajaran istri saya, anak-anakku tidak pernah mau dijodohkan.”
“Sayang ya. Hm, sama saja seperti Rath, dia tidak pernah mau dijodohkan.”
Fiuh, aku selamat agar tidak dijodohkan dengan Rath. Mana mau aku bertunangan dengan cowok seperti dia! Lebih baik sama teman sekelasku Kira, Alvin, Alex atau Jimmy. Sifat mereka lebih baik dan juga tampan. Mereka sahabat-sahabat terbaikku dan mereka mengerti aku begitu juga sebaliknya. Kalau aku ditanya mau menikah dengan siapa aku pasti akan menjawab diantara keempat orang itu daripada aku harus menikah dengan Rath.

Lalu aku kembali pergi mencari-cari adikku, Xiana yang keluyuran. Ayahku dan Pak Jun sepertinya ada niat dan rencana tersembunyi. Firasatku mengatakan begitu. Malam ini akhirnya selesai juga dengan ditutupi kembang api tahun baru.

To be continue... in next phase...

Tidak ada komentar: