Beberapa hari setelah jalan-jalan kemarin di sekolah aku merasa gampang bosan, pelajaran kesenian yang kusukai menjadi sangat menyebalkan . Padahal Pak Widian sudah membahas materi pelajaran yang sangat kusukai, seni olah vokal. Aku sendiri tidak tahu kenapa mood-ku bisa jadi begini. Apa jangan-jangan karena itu....
“Vi, Lv... kamu ‘gak apa-apa kan?” tanya Gracia cemas.
Badanku rasanya lemas. Mataku berkunang-kunang, perutku sakit... ada apa denganku?
“Hei, Lv! Kamu kenapa?” tanya Gracia lagi.
“E, entahlah. Badanku rasanya lemas sekali. Padahal aku sudah sarapan dan cukup tidurnya. Perutku sakit dan mataku berkunang-kunang nih.” Jawabku menyandarkan diri.
“Lv, jangan-jangan kamu belum ‘itu’ ya?” tanya Gracia menduga-duga.
“Maksud kalian ‘itu’ tuh apa?” sela Alex yang tiba-tiba ikut nimbrung. “Lv, kau lagi ‘gak enak badan ya?”
“Cowok ‘gak boleh tahu ‘itu’ tuh apa. Lagipula beneran nih, Lv kamu belum bulan ini?” kata Gracia.
“Mungkin dua bulanan. Soalnya aku lagi banyak pikiran sih...” ujarku lemas.
“Hm, kalau begitu tenang saja, hari ini kita hanya belajar setengah hari saja kok. Kan di surat pemberitahuan kemarin dikasih tahu, Vi. Ayahmu sudah membacanya kan?”
“Iya, nanti tinggal tunggu Pak Oman saja.” Kataku kesakitan.
Teng... Teng... Teng...
Bel sekolah berbunyi tiga kali tanda pulang sekolah. Levi bernafas lega, akhirnya ia bisa mengistirahatkan dirinya sementara. Tapi satu masalah muncul saat ia pergi ke tempat parkir. Mobil dan supir yang biasa menjemputnya tidak ada sama sekali di lapangan parkir ini.
“Ya ampun, Pak Oman kemana aja sih. Seharusnya sudah diberitahu Ayah kalau hari ini pulang cepat.” Dumelku.
“Hm, mungkin telat datang kali. Tunggu sebentar ya, aku mau kirim SMS dulu ke mamaku dulu.” Kata Gracia.
Alex yang memapahku berkata begini, “Tumben Pak Oman telat, padahal kan supir-supir yang ada di rumahmu itukan pada tepat waktu semua.”
“Yak, selesai. Mungkin sekitar 30 menitan lagi. Tenang aja, Lv... Aku bakal temenin kamu nunggu jemputan kok! Lagipula aku lesnya masih lama.”
“Ukh, Lex, tolong papah aku ke bangku yang ada disana deh. Aku ‘gak kuat berdiri lama-lama.” Pinta aku yang sudah sekarat, tak tahan dengan rasa sakit di perut.
“Oke.”
Alex lalu memapahku berjalan ke bangku dekat lapangan parkir. Aku duduk di bangku itu, nafasku terburu-buru, rasa sakit di perutku ini sudah tak tertahankan lagi. Dua puluh menit telah berlalu, masih ada waktu sepuluh menit lagi. Alex telah pulang duluan setelah dijemput oleh ibunya. Sedangkan Gracia masih berada di sampingku, walau supirnya sudah datang.
Dari pintu masuk parkiran aku melihat sebuah mobil hitam melintas masuk. Kulihat nomor plat mobilnya, F 312 WIN. Ketika mobil itu telah diparkirkan aku baru ingat siapa pemilik Toyota Camry itu, siapa lagi kalau bukan Rath? Yaah, dia memang datang menjemputku. Melihat Rath telah datang Gracia melambaikan tangannya pada Rath. Sepertinya aku telah diakalin oleh dua orang nih. Pertama Ayah dan kedua adalah Gracia. Kapan dia mendapatkan nomor HP Rath??
“Hei, sini kesini!” panggil Gracia.
“Maaf aku terlambat.”
“Hahaha...buatku sih tidak masalah tapi bagi Lv menjadi masalah. Dia lagi tidakk enak badan tuh. Dia juga mulai demam sih...” kata Gracia seperti sedang bercanda.
“Levi, kamu sakit?” tanya Rath padaku. Ia mendekatiku yang sedang bersandar di bangku taman. “Gracia, kamu benar... demamnya mulai naik.”
“Yah, dari tadi sih dia memang sudah lemas badan begitu. Lebih baik kau cepat membawanya pulang. Kasihan dia dari tadi sudah ngedumel ‘gak jelas gitu deh...”
“Iya, trims Gracia sudah mau menunggui Levi.”
“Tidak masalah. Oops! Sudah mau waktunya les nih. Oke, aku pergi duluan ya. Bye, Lv... moga-moga cepat baek ya.” Kata Gracia lalu pergi.
Rath memanggul ranselku dan menggendongku ke mobilnya. Aku sudah setengah sadar. Sekali lagi aku seperti menerima kebaikan dari dirinya. Perhatiannya terhadapku sungguh membuat diriku terkesan. Ia segera memacu mobil dengan kecepatan yang tinggi, tapi sayang jalanan macet disana-sini.
“Levi, bagaimana kalau ke rumah sakit saja? Demammu semakin tinggi. Aku khawatir kalau ada apa-apa.” Ujarnya mencemaskanku.
“Tidak perlu, lagipula ini sudah biasa. Demam ini hanya karena sakit di perut saja.”
“Tapi...”
“Ini hanya penyakit wanita saja kok!”
“Eh?”
“Hmpf... wanita itukan pasti datang bulan atau menstruasi ‘kan? Aku hanya telat dua bulan pasti jadi begini deh... Kalau sakitnya sekarang berarti besok aku akan datang bulan... Aduh, kok aku malah ngomong soal kewanitaan padamu sih. Dasar aku ini selalu saja...”
“Levi, sepertinya mukamu pucat. Apakah kemarin malam kau tidur?”
Aku rasanya ingin tertawa walau perut ini akan bertambah sakit bila aku tertawa.
“Hmpf... ahahaha... Rasanya ini pertama kalinya kau memanggilku dengan namaku. Dari tadi kau menyebut Levi, Levi... Aku senang...” kataku tersenyum.
‘Eh?”
“Terima kasih ya... aku....Zzzzzz...”
“Dasar...”
Rath...
Dasar, dia itu sepertinya selalu memaksakan dirinya... Lho? Kenapa aku jadi berdebar begini? Lucu juga wajahnya saat tidur... Ups, aku harus segera mengantarkannya ke rumah. Aku tak boleh jatuh cinta pada wajah tidurnya itu. Tidak mungkin aku yang sudah berumur diatas dua puluh tahun memacari gadis berumur empat belas tahun.
Ketika sampai di depan kediaman Sharon, Rath membopong Levi sampai ke kamar tidur. Karena Kakak atau Adik Levi belum ada yang pulang, keadaan menjadi agak repot. Sehingga Rath memilih tinggal dahulu sampai Levi bangun.
“Silahkan Nak Rath diminum teh manisnya.” Kata Bi Isaa, pembantu disana yang sudah bekerja disana sejak Levi masih kecil.
“Oh ya, terima kasih. Ngomong-ngomong, Bi, bagaimana keadaan Levi sekarang?”
“Sudah diberi obat penahan rasa sakit, satu jam lagi juga mungkin dia akan bangun.”
Guk...guk...guk...! Lolongan anjing terdengar dari teras halaman belakang. Rupanya Fate, anjing Collie peliharaan Levi ingin masuk ke dalam rumah. Bi Isaa pun membuka pintu geser dari kaca dan berframe kayu itu. Fate berlari masuk dan dengan pintarnya membuka pintu kamar Levi yang juga merupakan pintu geser dari kaca dan kayu juga. Pintu kamar lebih ringan daripada pintu menuju halaman. Fate terlihat sedih mendapati majikannya terbaring diatas tempat tidur.
“Wah, wah... Fate selalu saja duduk-duduk disitu kalau Non Levi sakit. Yah, dia memang ada untuk meringankan gerak tubuh nona.”
Kaing....guk... guk...guk...!
Satu jam kemudian aku terbangun. Aku mendapati diriku dijilati oleh Fate yang terus menungguiku di samping tempat tidur. Lalu aku bangun dari tempat tidur dibantu oleh Fate. Alasan kenapa Fate ada disini adalah aku sempat mengalami kebutaan sementara karena kemasukkan bakteri. Jadi Fate adalah anjing pemandu. Walau sebenarnya anjing pemandu itu seharusnya jenis Labrador atau Golden Retriever. Tapi karena aku senang anjing Collie maka dilatihlah seekor anjing collie agar bisa menjadi anjing pemandu dan jadilah Fate si Collie anjing pemandu.
Ketika aku ke ruang tengah aku melihat Rath tertidur dengan keadaan duduk di sofa dan tangan bersilang. Ternyata dia terus menunggu sampai aku bangun. Kuambil selimut dari kamarku dan kuselimuti Rath. Sebab udara mulai mendingin karena mendung. Sepertinya Kak Jack dan Xiana sama sekali belum pulang. Atau jangan-jangan mereka berdua langsung terbang ke Semarang. Kak Jack harus daftar ulang ke Universitas pilihannya, dan Xiana ikut untuk menemani. Apalagi Ayah, beliau hari ini saja tidak pulang karena ada urusan di luar kota. Sepinya rumahku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar